Entikong, Jalur Surga Ternak Ilegal perbatasan Indonesia-Malaysia

entikong 300x264 Entikong, Jalur Surga Ternak Ilegal perbatasan Indonesia Malaysia

Hari mulai gelap. Sebagaimana rutinitas sehari-hari, pintu perbatasan di Tebedu, Sarawak, wilayah negara bagian Malaysia itu sesaat lagi ditutup. Sejurus, iring-iringan mobil box berpintu tertutup rapat melintas melewati pos, meninggalkan Negeri Jiran itu dan berlanjut melintasi pintu perbatasan Entikong, memasuki Kalimantan Barat (Kalbar) yang merupakan wilayah NKRI (Negara Kesatuan republik Indonesia). Begitu cepat, hanya sesaat, kemudian menghilang meninggalkan deru mobil di kejauhan.

Tak ada pemeriksaan yang berarti terhadap mobil-mobil itu di perbatasan Entikong. Pintu dibuka sekadarnya, tak ada pembongkaran apalagi ganti mobil. Padahal kendaraan itu mengangkut produk-produk peternakan dan perikanan dalam es (beku) asal Sarawak yang dimasukkan secara ilegal ke Kalbar. Waktu tersebut dipilih agar memungkinkan bagi petugas berkilah “tidak tahu” dengan dalih di luar jam kerja.

Fakta di depan mata ini berlangsung sampai hari ini. Bahkan kian menjadi-jadi, volumenya terus bertambah. Dan tak sebagaimana dulu dilakukan menyusup di ‘jalan-jalan tikus’, kini melenggang dengan mudah lewat pintu resmi perbatasan Entikong dan Tebedu. Lancar dan aman.

Rentang 2010 – 2011 penulis tiga kali menyambangi kecamatan perbatasan (Entikong) dan Balekarangan, yang masuk wilayah Kabupaten Sanggau – Kalbar. Tepatnya akhir Juli 2010, medio November 2010, dan medio April 2011 lalu. Tiga kali pula harus menyaksikan realita yang sama.

Parau sudah suara ini, nyaris putus sudah nafas ini, menyuarakan fakta menyesakkan itu. Tetapi penyelundupan produk peternakan asal Sarawak ke wilayah Kalimantan Barat masih saja berlangsung tanpa ada tindakan berarti.

Lapor kepada aparat pemerintah di tingkat provinsi sudah, bersuara lewat media massa setempat juga sudah. Faktanya tidak ada perubahan sama sekali yang menuju kepada perbaikan. Harapan itu kini digantungkan kepada pemerintah pusat, untuk turun tangan menyelesaikan persoalan perbatasan yang menyangkut kedaulatan dan martabat bangsa.

Entikong, menjadi gerbang utama penyelundupan daging sapi murah asal India dan produk unggas asal Malaysia. Kejadian ini terjadi tanpa hambatan. Bukan hanya soal tak aman secara kesehatan. Seharusnya, ini mengoyak martabat kebangsaan.

Daging sapi asal India terus masuk secara ilegal masuk lewat Sarawak. Harga daging sapi dari India dikenal murah di pasaran dunia. Tetapi negara tersebut oleh badan kesehatan hewan dunia (OIE) dinyatakan tidak bebas penyakit mulut dan kuku (PMK), penyakit menular pada hewan berkuku belah termasuk sapi. Sedangkan Indonesia, dinyatakan bebas PMK. Karena itu di Indonesia berlaku larangan masuk bagi daging sapi asal India.

Lain halnya dengan Malaysia. Negara ini tidak termasuk yang bebas PMK, sehingga daging India dapat masuk. Importir Malaysia, mendatangkan daging sapi dari India yang murah untuk diolah lagi menjadi pakan hewan kesayangan (pet food) anjing dan kucing. Sementara untuk konsumsi rakyatnya, Malaysia mengimpor daging sapi dari Australia dan Brasil. Artinya, daging sapi ex-India yang masuk Kalbar sejatinya sisa bahan olahan pet food. Ini menunjukkan demikian rendahnya martabat bangsa ini di mata masyarakat Malaysia.

Telur ayam negeri jelas-jelas masuk melalui pintu resmi Entikong dari Sarawak. Bahkan cap dari peternakannya tidak terhapus. Telur ayam di Malaysia dipasarkan berdasarkan grade (berat telur per butir) yang terdiri AA, A, B, C, dan D. Ukuran kecil (C dan D) tidak laku dijual di pasar Malaysia, dan ukuran inilah yang membanjiri pasar Kalbar, terutama sejumlah kecamatan di Kabupaten Sanggau.

Sesekali telur-telur grade AA, A, dan B juga masuk ke wilayah Kalbar dengan harga murah. Tetapi lagi-lagi Indonesia dipecundangi. Kisah di balik beredarnya telur grade besar asal Malaysia di Kalbar tak urung menggedor martabat bangsa juga. Telur-telur dipasarkan di pasar swalayan/supermarket di Malaysia dibatasi tidak lebih dua minggu, lebih dari itu wajib ditarik (seharusnya dibuang). Celakanya, entah bagaimana awalnya, Kalbar sebagai tetangga seolah menjadi langganan pemasaran telur afkir ukuran gede tersebut. Sebagai bukti, telur-telur besar ini kalau dipecah dalam kondisi mentah, kuning telurnya encer karena sudah kadaluwarsa.

Daging ayam, bebek, dan ikan juga mengalir masuk ke Kalbar secara ilegal dalam setahun terakhir. Mendukung fakta ini, sejumlah petani ikan dan peternak unggas di wilayah Sanggau mengaku kehilangan konsumen di wilayah perbatasan setahun terakhir ini. Produk beku daging ayam, daging bebek dan ikan yang seharusnya melalui izin ekspor/impor itu diselundupkan tanpa sungkan dan ragu. Masih lengkap dengan kemasan bermerek perusahaan dan cap halal dari pemerintah Malaysia.

Jangan basa-basi

Hukum dan martabat bangsa ini harus ditegakkan. Tindak tegas para pelaku illegal trading maupun aparat lapangan yang meloloskan atau pura-pura tidak tahu terhadap kegiatan ilegal tersebut, karena pengamanan di lapangan menjadi tugas dan kewajibannya.

Menyangkut harkat dan martabat bangsa, pemerintah pusat dan daerah sebaiknya lebih memperhatikan masyarakat perbatasan. Jangan sampai anggota keluarga sendiri ‘diurus’ oleh tetangga lantaran diterlantarkan oleh orang tuanya (=pemerintahnya) sendiri. Dan jangan sampai terlontar kalimat dari orang lain ‘siapa suruh jadi rakyat Indonesia’. Itu sungguh sangat mengenaskan.

Kepada media massa, jangan bosan-bosan menyuarakan persoalan perbatasan yang tak kunjung tenteram bahkan mengusik harkat dan martabat bangsa ini. Nafas kami perlu disambung dan didukung media massa untuk mengetuk hati dan mengingatkan pimpinan negeri ini.

Kepada insan akademika di perguruan tinggi, datanglah ke wilayah perbatasan. Jadikanlah warga Indonesia di perbatasan sebagai ‘obyek’ penelitian kajian sosial. Hiduplah bersama mereka dalam kurun waktu tertentu. Jadikan daerah-daerah ini sebagai lokasi pelaksanaan program kuliah kerja nyata mahasiswa. Demi kedaulatan dan martabat bangsa. TROBOS

 

Produk Peternakan dan Perikanan Selundupan dari Malaysia di tingkat agen di Kalbar

Jenis                                        Rp/kg

1.       Daging sapi A                     : 43.000

2.       Daging sapi B                      : 40.000

3.       Daging sapi C                      : 38.000

4.       Daging bebek                    : 28.000

5.       Karkas ayam                       : 20.000

6.       Hati ayam                            :16.000

7.       Ampela/Empedal             : 23.000

8.       Tongkol                                 : 14.000

9.       Sarden                                   : 13.000

10.   Patin                                        : 11.000

11.   Bawal                                       : 18.000

12.   Telur ayam ras   A              : Rp 28.000/piring (isi 30 butir)

13.   Telur ayam ras  C               : Rp 26.000/piring (isi 30 butir)

14.   Sosis “Tily”                           : Rp 240.000/kotak (1 kotak isi 32 bungkus)

15.   Sosis “Ayam Madu”          : Rp 230.000/kotak (1 kotak isi 32 bungkus)

Diolah dari berbagai sumber

sumber: blog TROBOS

Posted in: Berita

About the Author:

Penyedia DOC Ayam Kampung | Unggulan dan Terbaik | Sumber informasi lengkap cara budidaya | cara ternak | tips dan trik | Ternak Ayam Kampung

Post a Comment


eight − 2 =